Denganadanya tugu-tugu ini, pemujaan nenek-moyang ditanah Batak telah mendapat suatu perwujudan yang seharusnya mendapat perhatian kita. Sejak permulaan tahun limapuluhan jumlah tugu-tugu di tanah batak menanjak sedemikian mencolok, hingga ini dapat disebut sebagai bangunan dan suatu gerakan. [2] Orang-orang batak sekarang sepertinya hanya berlomba-lomba membangun tugu marga dan jugaCara Umat Kristen Menyikapi Perkembangan IPTEKSikap Iman Kristen Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi1. Lihat Tujuannya2. Memuliakan Allah dengan IPTEKCara Umat Kristen Menyikapi Perkembangan â Sikap Kristen terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan teknologi memang membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Mulai dari komunikasi, informasi, hingga mobilisasi. Semua bisa dilakukan secara cepat tana mungkin tanpda disadari perkembangan teknologi juga sudah merambah masuk ke dalam kehidupan gereja. Mulai dari lampu penerang, mic pengeras suara, hingga LCD yang digunakan untuk pujian merupakan beberapa adanya hal tersebut teknologi bisa memudahkan ibadah kita. Namun di sisi lain teknologi juga bisa membuat jemaat menjadi malas dan mudah meremehkan sesuatu. Misalnya dalam penggunaan Alkitab digital atau hal ini tak dilarang, namun kadang ketika ada notifikasi pesan masuk, jemaat tidak fokus pada ibadahnya. Dari ilustrasi singkat ini kita bisa mengabil kesimpulan bahwa ada dampak buruk yang bisa terjadi pada kehidupan agama jika kita tak bijak menyikapi seperti apa seharisnya sikap Kristen terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi? Di sini kami akan membahasnya sebagai lanjutan dari hubungan iman Kristen dengan pengetahuan dan Iman Kristen Terhadap Ilmu Pengetahuan dan TeknologiDi sini kami akan menjelaskan sikap Kristen yang baik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi IPTEK. Simak pada uraian di bawah Lihat TujuannyaPertama kita harus melihat tujuanya di dalam Alkitab bagaimana Allah bicara tentang teknologi. Alkitab memang tidak bicara spesifik mengenai teknologi, namun ada yang menyebutkan bahwa Allah mendorong manusia untuk ketika Allah menyuruh Nuh membuat kapal yang akan menjadi tempat tinggalnya dan keluarga ketika Allah menurunkan air bah. Allah bahkan menentukan sendiri ukuran maupun bahan yang digunakan untuk pembuatan Allah memerintahkan Musa untuk membuat Kemah Suci. Dalam ayat tersebut dijelaskan juga Allah memberi petunjuk tentang dimensi, ruang, dan bahan yang diperlukan untuk mendirikan Kemah bisa melihat pada contoh itu bahwa Allah tak menghalangi manusia untuk mengembangkan teknologi. Bahkan ia menuntun manusia untuk berkembang dengan tujuan yang baik. Tapi berbeda jika motivasi berkembangnya tidak Alkitab dicritakan Allah memporak-porandakan Menara Babel. Bukan berarti Allah tidak setuju dengan menawa itu, namun Allah melihat motivasi untuk mencari nama dan ingin menyamai Allah pada orang yang ayat lain Allah menentang penggunaan bait suci yang tidak sesuai dengan fungsinya. Bukan berarti Allah menentang penggunaan Bait Suci, melainkan karena tujuannya adalah untuk bisa meyimpulkan bahwa sejak awal manusia diciptakan, manusia serupa dan segambar dengan Allah yang merupakan pencipta manusia. Jadi, Dia tak menghalangi kreasi manusia bila ingin memiliki karya untuk tujuan Memuliakan Allah dengan IPTEKAllah mendorong manusia untuk meningkatkan keahlian dan kemampuannya menciptakan sesuatu demi kemuliaan-Nya. Salah satunya adalah Bait Allah, namun bukan berarti kemampuan yanng kita perlu kembangkan berkaitan dengan gereja saja sebagai juga bisa memuliakan Allah dengan berkontribusi baik pada lingkungan sekolah, lingkungan sosial, maupun nasional. Jika kita menjadi teladan dan manfaat bagi oragng lain, hal itu buisa dibanggakan karena Allah yang memberikna Roh-Nya sehingga kita bisa menyelesaikan kita tarik kesimpulan bahwa iman Kristen memandang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hal baik. Naun, bagaimana pengaruhnya pada manusia tergantung adri motivasinya memiliki tujuan baik atau kita tidak terperangkap dampak negatif teknologi, kita perlu hikmat Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai pedoman. Seperti yang dijelaskan dalam Alkitab bahwa untuk menambah ilmu, namun dengan pertimbangan. Untuk mengetahui cara memiliki sikap hidup yang KataSekian saja pembahasan lengkap dari kami mengenai sikap kristen terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara bersikap yang baik terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan menurut Cara Ibadat Sabda Tanpa ImamPengampunan Dosa dalam Agama KristenAyat Alkitab Tentang Mengasihi Musuh Jawabanyang benar adalah: A. saling menghormati. Dilansir dari Ensiklopedia, dibawahini sikap yang dikembangkan untuk menghadapi keberagaman budaya adalah saling menghormati. Pembahasan dan Penjelasan. Menurut saya jawaban A. saling menghormati adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di google. Indonesia merupakan bangsa yang dikarunia Tuhan dengan kekayaan akan keragaman budayanya. Kekayaan khasanah budaya nusantara telah memikat dan menarik perhatian masyarakat mancanegara. Kekaguman mereka akan budaya nusantara membawa ketertarikan untuk mempelajari corak dan keragaman budaya bumi khatulistiwa ini. Budaya yang memikat dunia manca ternyata berbanding terbalik dengan di dalam negeri sendiri, di mana masyarakat Indonesia, tidak lagi menghargai dan melestarikannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan deskriptif untuk melihat bagaimana pandangan etika terhadap kebudayaan nusantara dan begaimana tanggung jawab etika teologi dalam menjaga kelestarian kebudayaan nusantara. Dalam tanggung jawabnya melestarikan budaya nusantara, maka etika teologi berperan terhadap adanya inkulturasi dan kontekstualisasi Injil dan Budaya. Injil harus dapat menerangi kebudayaan, sehingga dalam kontekstualisasi, konteks budaya harus diterangi oleh teks Alkitab. Injil lebih tinggi dari budaya, sehingga budaya nusantara yang netral dan tidak bertentangan dengan Injil harus dapat dilestarikan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 64 Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia ISSN 2722-8630 online Vol. 2, No. 1 2021 64â74 Etika Teologis Dalam Memandang Tanggung Jawab Kristen Terhadap Kelestarian Budaya Nusantara Candra Gunawan Marisi1, Didimus Sutanto B Prasetya2, Dewi Lidya S3, Rikson Situmorang4 1, 3, 4 Prodi PK AUD Sekolah Tinggi Teologi Real Batam 2Prodi PK AUD STAKPN Sentani Email candragun dimuss4jc dewilidyasidabutar30 riksonstm1611 Abstract Indonesia is a nation that is gifted by God with a wealth of cultural diversity. The richness of the archipelago's cultural treasures has captivated and attracted the attention of foreign people. Their admiration for the culture of the archipelago brought an interest in studying the patterns and diversity of this equatorial earth culture. The culture that attracts the foreign world turns out to be inversely proportional to that in their own country, where the Indonesian people no longer respect and preserve it. This research was conducted using qualitative with descriptive approach methods to see how the ethical view of the archipelago culture is and how the responsibility of theological ethics is in maintaining the preservation of the archipelago culture. In its responsibility to preserve the culture of the archipelago, theological ethics plays a role in the inculturation and contextualization of the Gospel and Culture. The gospel must be able to illuminate culture, so that in contextualization, context culture must be illuminated by the text Bible. The gospel is higher than culture, so the culture of the archipelago which is neutral and does not conflict with the Bible must be preserved. Key words Culture, Archipelago, Sustainability, Theological Ethics Abstrak Indonesia merupakan bangsa yang dikarunia Tuhan dengan kekayaan akan keragaman budayanya. Kekayaan khasanah budaya Nusantara telah memikat dan menarik perhatian masyarakat Mancanegara. Kekaguman mereka akan budaya Nusantara membawa ketertarikan untuk mempelajari corak dan keragaman budaya bumi khatulistiwa ini. Budaya yang memikat dunia manca ternyata berbanding terbalik dengan di dalam negeri sendiri, di mana masyarakat Indonesia kurang menghargai dan melestarikannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk melihat bagaimana pandangan etika terhadap kebudayaan Nusantara dan begaimana tanggung jawab etika teologi dalam menjaga kelestarian kebudayaan Nusantara. Dalam tanggung jawabnya melestarikan budaya nusantara, maka etika teologi berperan terhadap adanya inkulturasi dan kontekstualisasi Injil dan Budaya. Injil harus dapat menerangi kebudayaan, sehingga dalam kontekstualisasi, konteks budaya harus diterangi oleh teks Alkitab. Injil lebih tinggi dari budaya, sehingga budaya Nusantara yang netral dan tidak bertentangan dengan Injil harus dapat dilestarikan. Kata kunci Kebudayaan, Nusantara, Kelestarian, Etika Teologi. Pendahuluan Indonesia merupakan bangsa yang dikarunia Tuhan dengan kekayaan akan keragaman budayanya. Keragaman budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke adalah 65 kebudayaan Adiluhung warisan nenek moyang yang menjadi tradisi turun-temurun. Kekayaan khasanah budaya Nusantara telah memikat dan menarik perhatian masyarakat Mancanegara. Kekaguman mereka akan budaya Nusantara membawa ketertarikan untuk mempelajari corak dan keragaman budaya bumi khatulistiwa ini. Budaya yang memikat dunia manca ternyata berbanding terbalik dengan di dalam negeri sendiri, di mana masyarakat Indonesia, tidak lagi menghargai dan melestarikannya. Budaya Adiluhung diambang krisis, tergerus dengan modernisasi dan budaya asing yang digandrungi kaum muda. Cepat atau lambat, jika hal ini dibiarkan maka budaya Nusantara akan tergeser dan tergusur dari bumi Pertiwi. Kejayaannya hanya akan menjadi sebuah kenangan belaka. Bangsa yang kehilangan budayanya akan menjadi bangsa yang kehilangan jati diri, mengalami krisis identitas. Hal ini, tentu menjadi keprihatinan bersama dari semua lapisan masyarakat bangsa. Dalam hal ini, termasuk menjadi tanggung jawab masyarakat gereja. Alih-alih melestarikan budaya, tetapi justru sebaliknya. Kehadiran gereja di Nusantara justru diikuti dengan berkembangnya budaya Eropa, dan cenderung kebarat-baratan. Mulai dari tata ibadah, busana, musikalitas hingga ornamen-ornamen gereja sampai arsitektur bangunan gereja semua berbau Eropa. Perlahan-lahan mulai meninggalkan budaya asli Nusantara dan membentuk identitas baru, menjadi orang Nusantara rasa sejarah, budaya Nusantara dianggap budaya yang lahir dari penyembahan berhala, animisme, dinamisme bahkan paganisme sehingga dianggap bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan. Anggapan ini menjadikan budaya berlawanan dengan kekristenan dan harus ditinggalkan. Keengganan gereja untuk menerima budaya lokal mendapat tentangan dari orang lokal, sehingga hal ini menjadi kontra produktif bagi pemberitaan Injil. Hingga sejarah mencatat bahwa keberhasilan penginjilan di Nusantara adalah dimulai dari keberhasilan mengadopsi budaya lokal Nusantara. Sebagai contoh, kisah penginjilan di tanah Jawa oleh Paulus Tosari, Kyai Tunggul Wulung dan Kyai Sadrakh. Melakukan penginjilan kepada orang Jawa dengan pendekatan budaya Jawa, walaupun kemudian dituduh melakukan sinkritisme. Menurut Arie de Kuiper, bahaya sinkritisme selalu mengancam dalam upaya untuk menyesuaikan Injil dengan budaya, terlebih bila mengorbankan keaslian Injil demi keaslian budayanya. Hal ini yang mendasari Nommensen dalam membawa suku Batak mengenal Kristus. Nommensen tidak menentang adat Batak, tetapi menjadikannya sebagai jembatan bagi pemberitaan Injil di tanah Batak. Ia membaginya ke dalam tiga kategori, yaitu 1 Adat yang netral; 2 Adat yang bertentangan dengan Injil; dan 3 Adat yang sesuai dengan Luni Tumanan, âIbadah Kontemporer Sebuah Analisis Reflektif Terhadap Lahirnya Budaya Populer Dalam Gereja Masa Kini,â Jurnal Jaffray 13, no. 1 2015 35, John Chambers and Haskarlianus Pasang, Cara Pandang Kristen Bogor Langham, 2015. 169 Ezra Tari, âBagaimana Kita Bisa Melawan Sinkritisme Di Dalam Misi Kita?â 2012 1â15. Kuiper Arie De, Missiologia Jakarta BPK Gunung Mulia, 2009. 91 Mangapul Sagala, Apakah Benar Adat Batak Bertentangan Dengan Injil? Makalah Seminar Sehari âAdat Batak Dan Injilâ Jakarta Yayasan Gema Kyriasa, 2004. 66 Berdasarkan perihal tersebut, maka tidak semua budaya itu negatif dan bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan sehingga harus ditolak dan dihindari. Tetapi justru sebaliknya harus dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus. Memang tidak dipungkiri ada budaya yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan, hal inilah yang seharusnya ditolak dan ditinggalkan. Hal ini menempatkan Etika teologi untuk dapat memandang kepada kebudayaan Nusantara yang netral dan tidak bertentangan dengan Injil untuk dapat dilestarikan. Dengan demikian, tanggung jawab kekristenan dalam melestarikan kebudayaan Nusantara adalah sebuah keniscayaan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, pertama bagaimana peran etika teologi dalam memandang budaya Nusantara yang netral, bertentangan atau dapat diakomodasi serta dikuduskan. Kedua, bagaimana peran etika teologi dalam tanggung jawab kelestarian budaya Nusantara. Tujuan penelitian ini adalah, pertama menjelaskan peran etika teologi dalam memandang budaya Nusantara dan kedua, merumuskan peran etika teologi dalam tanggung jawab kelestarian budaya Nusantara. Metode Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, penulis mengumpulkan data-data dari berbagai sumber, yang kemudian dianalisa dan dikembangkan sebagai bagian analisa data. Penelitian ini juga merupakan penelitian deskriptif, yakni menyelidiki literatur yang berkaitan dengan topik, termasuk menafsirkan ayat firman Tuhan yang berkaitan dengan topik untuk mendapatkan suatu data tentang peran etika teologi terhadap kelestarian budaya Nusantara. Hasil dan Pembahasan Peran Etika Teologi Dalam Memandang Kebudayaan Nusantara Istilah etika teologi tidak bisa dipisahkan dari etika secara umum, di mana dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum. Etika teologis merupakan etika yang erat kaitannya dengan agama dan berisikan tentang unsur etika umum dan dapat umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis, dalam hal ini yang bersumber dari adalah salah satu negara yang dianugerahi Tuhan dengan kekayaan budaya yang beragam. Ragam budaya dari setiap suku membentuk adat kebiasaan yang diwariskan turun-temurun dalam kurun waktu berabad-abad tahun lampau lamanya itulah yang dimaksud dengan budaya Nusantara. Secara etimologi asal kata, kebudayaan berasal dari kata Sonny Eli Zaluchu, âStrategi Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama,â Evangelikal 4, no. 1 2020 28â38. Ibid. Johannes Verkuyl, Etika Kristen Dan Kebudayaan, 2nd ed. Jakarta Badan Penerbit Kristen, 1996. 13-14 Paul L Lehman, Ethics in a Christian Context New York Harper & Row Publisher, 1963. 25 67 âbuddhayahâ bahasa Sansekerta. Kata jamak âbuddhiâ, yang berarti budi atau akal dan kata âdayahâ berarti kemampuan. Kebudayaan berarti, hal-hal yang berkaitan dengan hasil pemikiran atau berakal. Menurut Verkuyl, kebudayaan adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh akal manusia, yang berhubungan erat dengan pengerjaan atau pengelolaan kemungkinan-kemungkinan dalam alam penciptaan oleh manusia dalam lingkup mengatakan bahwa kebudayaan, sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan cara hidup dan kebiasaan manusia secara utuh, meliputi cara berpikir, dan mengisi kehidupan dengan melakukan yang dipikirkannya itu, dengan tujuan untuk menata, memelihara serta mempertahankan kehidupannya di dalam konteks di mana ia berada. Sementara Sarinah menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama suatu kelompok orang yang diwariskan turun-temurun. Setiap kebudayaan terdapat makna, tujuan dan pesan tersendiri yang ingin disampaikan. Oleh karenanya memerlukan suatu keahlian dalam menginterpretasikan kebudayaan untuk membangun suatu pengertian, pemahaman dan penerimaan suatu kebudayaan itu dibedakan ke dalam tiga bentuk, menurut Hoenigman, yaitu gagasan, aktivitas dan artefak. Di mana gagasan merupakan wujud kebudayaan yang terdiri dari ide, nilai atau norma peraturan dalam adat-istiadat. Aktivitas merupakan wujud kebudayaan yang tampak dalam tindakan manusia dalam berinteraksi, bergaul dengan manusia yang lain berdasarkan pola-pola tertentu tingkah laku yang di dasarkan atas adat kebiasaan mereka. sedang artefak adalah wujud kebudayaan berupa benda dan semua karya manusia yang dapat dilihat, diraba dan didokumentasikan. Dasar Alkitabiah Kebudayaan Kebudayaan sebagai hasil karya cipta manusia menunjukkan bahwa hal ini tidak bisa dipisahkan dari awal terciptanya manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kebudayaan manusia itu terbentuk sejak penciptaan. Namun, penciptaan dan kebudayaan tidak bisa disamakan karena penciptaan adalah apa yang Allah karyakan, bersumber dari Pribadi Allah, sedangkan kebudayaan adalah apa yang manusia karyakan, bersumber dari manusia yang merupakan hasil ciptaan Allah. Hal ini membuktikan bahwa Alkitab itu melampaui dari segala macam bentuk kebudayaan manapun. Sebagai implikasinya adalah bahwa segala sesuatu harus mengacu dan diuji berdasarkan standar Alkitab. Dengan demikian, dasar kebudayaan harus dilihat berdasarkan dasar Alkitabiahnya. Kej. 1 28; 215 telah membuktikan bahwa cikal Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi Jakarta Rineka Cipta, 2009. 181 Verkuyl, Etika Kristen Dan Kebudayaan. 13-14 Yakub Tomatala, Antropologi; Dasar Pendekatan Pelayanan Lintas Budaya Jakarta YT Leadership Foundation, 2007. 17. Sarinah, Ilmu Budaya Dasar Sleman CV Budi Utama, 2019. 11. Harold Netland, Encountering Religious Pluralism The Challenge to Christian Faith Mission Downers Grove IVP Acadamic, 2001. 57. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. John M Frame, âKekristenan Dan Kebudayaan Bagian 1,â Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan 6, no. 1 2005 1â27. 68 bakal kebudayaan adalah diciptakannya manusia. Dengan demikian, di mana ada manusia di situ ada diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, hal ini berimplikasi bahwa manusia memiliki konskuensi antara lain 1 Secara aspek rohani akan mampu mengenali suatu wilayah agama atau kepercayaan. Melalui natur ini, manusia akan mampu mengenali sifat-sifat atau hal-hal yang supra-natural. 2 Aspek etika-moralitas, manusia akan mengerti suatu wilayah kebudayaan atau adat-istiadat. Hal ini seharusnya membawa manusia mengerti bagaimana bersikap, bertutur dan bersantun. 3 Aspek hukum, manusia akan mencari dan menemukan keadilan dalam prilakunya. Di sini manusia dituntut suatu pertanggung jawaban dalam berprilaku. Di mana ada sifat keadilan Allah yang ditanam dalam hati manusia, sehingga ada konsekuensi-konsekuensi dari setiap prilaku yang dilakukannya, oleh karenanya manusia dituntut untuk berpikir dan berhati-hati atas setiap tindakan yang akan dilakukannya. 4 Aspek rasio, akan membawa manusia mengenal pendidikan dan pengembangan diri. Ada kecenderungan untuk selalu melakukan aktivitas rasionalisasi dan akan selalu mencari yang dirasakan lebih baik daripada yang Kebudayaan Penempatan manusia di taman Eden oleh Allah adalah untuk mengusahakan dan memelihara taman itu, selain untuk beranak cucu dan memenuhi bumi. Hal ini dapat dipahami bahwa berkebudayaan adalah suatu mandat atau perintah agar manusia dapat memenuhi, menaklukkan, menguasai, mengerjakan mengusahakan dan memelihara seluruh ciptaan Allah. Kebudayaan adalah perintah Allah untuk beranak cucu, bertambah banyak dan untuk berkuasa atau mengelola ciptaan Tuhan yang lainnya. Tuhan memberikan perintah kepada manusia untuk mengusahakan budaya yang seharusnya bagi kemuliaan Tuhan. Namun kejatuhan manusia dalam dosa merupakan bukti pemberontakan manusia kepada Allah. Manusia lebih mengikuti kehendaknya sendiri, hal ini menunjukkan bahwa manusia justru takluk dan tunduk serta dikuasai oleh kebudayaan-kebudayaan tertentu. Manusia lebih taat kepada produk kebudayaan dari pada larangan atau perintah Allah sendiri. Mandat budaya menempatkan manusia sebagai satu-satunya ciptaan Allah yang diberi kemampuan berbudaya melalui akal pikirannya. Allah menciptakan alam dan manusia. Sehingga manusia pun seturut teladan Allah mencipta dengan mendayagunakan alam ciptaan-Nya dengan setiap potensi yang telah Allah berikan untuk masing-masing individu. Setiap yang dikerjakan manusia tidak terlepas dari pengaruh budaya yang telah dia ketahui dan warisi. Sehingga hal ini akan berdampak kepada kebudayaan selanjutnya, baik itu dengan menerima, menentang, mengkoreksi bahkan mengembangkan budaya sebelumnya. Budaya Lotnatigor Sihombing, âTanggung Jawab Gereja Dalam Mewujudnyatakan Karya Kristus Di Sektor Kebudayaan,â Amanat Agung 7, no. 2 2011 257â288. Sundoro Tanuwidjaja and Samuel Udau, âIman Kristen Dan Kebudayaan,â Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. 1 2020 1â14. Ibid. 69 yang ditanamkan dan diajarkan turun-temurun dari generasi satu ke generasi berikutnya memberikan suatu identitas pengenalan diri yang melekat dalam diri manusia itu sendiri. Sayangnya, tidak ada satu kebudayaan pun yang membawa manusia mengenali dirinya sebagai gambar dan peta Allah sejati dalam hidupnya. Sehingga kebudayaan pun membawa kepada kebuntuan di dalam pengenalan akan diri yang sejati. Mandat budaya hanya dapat dilakukan dengan wahyu Allah. Hal ini jika tidak berhati-hati justru akan membawa pada pelestarian dosa di dalam kebudayaan yang melawan wahyu kebenaran Tuhan. Oleh karenanya, mandat budaya hanya dapat dilakukan oleh mereka yang sudah mengenal Tuhan karena menjalankan mandat budaya itu berarti menjalankan rencana Allah sesuai dengan desain yang direncanakan-Nya semula. Kebudayaan yang manusia berdosa kerjakan pada akhirnya akan menggantikan posisi Allah dengan hal lain. Di dalam penciptaan yang Allah kerjakan, Allah memiliki tujuan, desain, suatu keteraturan, suatu kesinambungan dan mengandung kebijaksanaan. Tujuan penciptaan Allah adalah untuk menggambarkan kemuliaan Allah. Manusia di dalam kebudayaannya pun memiliki tujuan, pemikiran dan maksud di belakang yang mendasari setiap penampakkan yang terlihat dari setiap kebudayaannya. Oleh karena itu, dalam melaksanakan mandat budaya tersebut dibutuhkan perspektif atau pandangan etika teologis, dalam hal ini tentunya teologi kristen. Bagaimana pandangan etika kristen terhadap suatu kebudayaan atau kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu kebudayaan Nusantara? Perspektif Etika Kristen Tentang Kebudayaan Nusantara Etika kristen merupakan cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik Ethos, bahasa Yunani, yang berarti kebiasaan atau adat dari sudut pandang kekristenan. Standar moral yang digunakan dalam moral kristen adalah kehendak Allah yang terdapat dalam Alkitab. Tuhan memberikan perintah kepada manusia untuk berbudaya dalam kelestarian manusia dan ciptaan yang lainnya Pada dasarnya kebudayaan harus berdasarkan kepada suatu tatanan kehidupan yang membawa dan mengarahkan manusia kepada pengenalan akan Tuhan dan mengasihi Tuhan. Oleh karenanya, segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah adalah yang baik. Sehingga dalam kaitannya dengan hal ini adalah apakah kebudayaan yang ada di Indonesia adalah kebudayaan yang mengajarkan moral baik, yaitu moral yang sesuai dengan kehendak Allah. Maka, secara sederhananya adalah bila moral baik atau nilai-nilai atau norma dari suatu kebudayaan itu tidak bertentangan dengan kehendak Allah maka hal itu bisa diterima. Peran Etika Teologi Dalam Tanggung jawab Kelestarian Kebudayaan Nusantara Tanggung jawab kelestarian budaya Nusantara seharusnya menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa. Alih-alih merawat dan melestarikan kebudayaan Nusantara, acapkali banyak pihak justru cuek dan mengabaikannya. Kebudayaan dipertentangkan dengan Frame, âKekristenan Dan Kebudayaan Bagian 1.â 70 kemajuan zaman dan akidah agama, hal ini menjadikan kebudayaan Nusantara mulai ditinggalkan. Setidaknya terdapat dua kelompok yang kontra terhadap kebudayaan Nusantara, yaitu 1 Kelompok modernis, di mana kelompok ini tergila-gila dengan modernitas kemodernan atau kekinian dan kemajuan. Kebudayaan Nusantara dianggap tradisional jadul, usang, kuno, tua dan ketinggalan jaman. 2 Kelompok agamis, baik kelompok islamis dan termasuk kelompok kristen puritan-reformis, di mana kelompok ini adalah kelompok fanatikus agama atau kaum reformis-puritan yang mengidealkan kemurnian ajaran akidah, kesempurnaan praktik doktrin dan ajaran yang bersih dan murni dari unsur-unsur lokal. Ironisnya mereka menolak budaya lokal, tetapi secara tidak disadari mereka membawa budaya baru asing yang dibungkus dalam bungkus rohani agama. Menjadi kearab-araban atau pun kebarat-baratan, terlalu Eropa bahkan keyahudi-yahudian. Sukarno, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia dan Presiden pertama Indonesia pernah menekankan pentingnya jati diri bangsa, yang berkepribadian kebudayaan Nusantara. Hal ini jangan terkikis oleh budaya luar, termasuk dalam hal keagamaan. Sukarno menegaskan jika beragama Hindu jangan jadi orang India berbudaya India, beragama Islam jangan jadi orang Arab berbudaya Arab dan beragama Kristen jangan jadi orang Yahudi berbudaya Yahudi, tetapi harus tetap menjadi orang Indonesia yang berbudaya Kristen Terhadap Kelestarian Kebudayaan Pandangan Kristen tentang kebudayaan sangat beragam, seperti halnya yang dipaparkan oleh Niebuhr, di mana terdapat lima tipologi pendekatan orang kristen terhadap kebudayaan, yaitu 1 Christ Againts Culture, menganggap bahwa pada dasarnya kebudayaan manusia adalah buruk, penuh dosa dan jahat sehingga bertentangan dengan iman kristen, 2 Christ of Culture, melihat bahwa pada dasarnya kebudayaan adalah baik dan dapat menemukan Kristus sebagai pahlawan dari sejarah kebudayaan, nilai dan kehidupan budaya mereka, 3 Chirst Above Culture, berpandangan bahwa sebagian kebudayaan pada dasarnya adalah baik sehingga dapat disintesakan dengan iman kristen, 4 Christ and Culture in Paradox, beranggapan bahwa kebudayaan itu buruk, penuh dosa dan jahat sehingga orang kristen berada pada ketaatan yang bertentangan antara iman kristen dan kebudayaan, 5 Christ, Transformer of Culture, menganggap bahwa pada dasarnya kebudayaan adalah baik, namun karena manusia jatuh dalam dosa, maka kebudayaan perlu ditebus, dikuduskan, direstorasi agar dapat diubah untuk kemuliaan secara sederhana, Nommensen berkaitan dengan pandangannya terhadap budaya atau adat, ia mengklasifikasikannya ke dalam tiga kategori, yaitu 1 Adat yang netral; 2 Adat yang bertentangan dengan Injil; dan 3 Adat yang sesuai dengan Injil. Hal ini berarti bahwa ada adat atau budaya yang berlawanan dengan iman kristen dan ada budaya âHttps// BBC. H. R. Niebuhr, Kristus Dan Kebudayaan Jakarta Petra Jaya, 1995. 44-49 Sagala, Apakah Benar Adat Batak Bertentangan Dengan Injil? Makalah Seminar Sehari âAdat Batak Dan Injil.â 71 yang tidak bertentangan dengan iman kristen. Karena kejatuhan manusia ke dalam dosa Roma 323, segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia atau kecenderungan manusia adalah berbuat kejahatan semata-mata kejadian 65. Bagaimana untuk dapat menilai suatu budaya berlawanan atau tidak dengan iman kristen dibutuhkan perspektif atau pandangan etika teologis, dalam hal ini tentunya teologi kristen. Bagaimana pandangan etika kristen terhadap suatu tanggung jawab kelestarian kebudayaan atau kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu kebudayaan nusantara. Perspektif Etika Teologi Terhadap Tanggung Jawab Kelestarian Kebudayaan Nusantara Tanggung jawab kelestarian kebudayaan adalah tanggung jawab bersama, termasuk umat kristiani sebagai warga negara. Di mana gereja hadir di dalam masyarakat multi-kultur majemuk, pluralis. Bagaimana gereja harus bersikap terhadap kebudayaan akan sangat berdampak pada kelangsungan atau kelestarian budaya nusantara. Bagaimana dalam melaksanakan iman kristianinya sekaligus sebagai warga negara melaksanakan kebudayaannya tidak bertentangan paradoks. Langkah apa saja yang gereja perlu ambil agar tetap bisa eksis dalam budaya-budaya lokal yang berbhinneka dan terus berubah tanpa merusak atau menghancurkan budaya-budaya itu, tetapi pada saat yang sama membawa pembaharuan dan perubahan sehingga Injil dapat diberitakan dan dilaksanakan dapat meyelamatkan baik orang Yahudi maupun orang Yunani Roma 1 16 dengan konteks budayanya. Di sinilah peran etika teologis untuk dapat melihat dan menempatkan diri pada batasan-batasan yang jelas antara Injil dan Kebudayaan itu sendiri. Menurut Lukito, tidak ada injil yang bebas dari kebudayaan. Menurutnya, yang terpenting adalah bukan bagaimana injil menaklukkan kebudayaan tetapi bagaimana hubungan antara injil dan kebudayaan itu. Ia menyatakan bahwa hubungan Injil dan kebudayaan itu sama halnya hubungan antara teks dan konteks. Injil merupakan teks yang harus ditafsirkan artinya, sementara kebudayaan juga merupakan konteks yang memerlukan suatu gereja menanamkan Injil dalam budaya masyarakat, oleh umat Katholik dikenal dengan istilah inkulturasi, yakni menurut Soenarjo 1977 adalah suatu usaha masuk dalam kultur suatu alam budaya atau membudaya agar kehidupan kristiani tidak merupakan gejala asing di tengah alam budaya itu. Kaum Protestan lebih menyukai istilah kontekstualisasi, yakni upaya untuk memahami iman kristen dipandang dari suatu konteks tertentu, baik itu budaya tradisional maupun budaya modern Bevans, 2002. Kedua istilah ini memiliki tujuan yang sama, yaitu usaha untuk menginkarnasikan Injil ke dalam budaya masyarakat di mana Injil itu diberitakan sehingga Injil dalam seluruh ikutannya, baik bahasa, berlambang, berdoa, berpikir, berbicara, berdiam, bergaya, berseni, berpuisi, berteologi, berperasaan, dst. Lukito, The Undending Dialogue of Gospel and Cultureâ Dalam Struging in Hope A Tribute the Rev. Dr. Eka Darmaputra, ed. Ferdinand Suleeman, Adji Ageng Sutama, and A Rajendra Jakarta BPK Gunung Mulia, 2011. 227 Ebenhaizer Nuban Timo, âGereja Dan Budaya-Budaya,â Penuntun Jurnal Teologi dan Gereja 14, no. 25 2013 57â70. Ibid. 72 menjelma dalam wajah budaya tersebut. Lebih lanjut Timo menekankan perihal pentingnya dua aksen dalam kontekstualisasi dan inkulturasi, yaitu 1 sungguh-sungguh mempertahankan nilai-nilai budaya dan 2 sungguh-sungguh mengkritisi nilai-nilai itu. Pengintegrasian Injil ke dalam suatu budaya demi kelestarian suatu budaya tetap harus menjaga fungsi kritis dari Injil terhadap budaya itu, demi mengembangkan atau mentransformasikan budaya tersebut. Kontekstualisasi dan inkulturasi tidak hanya dilakukan kepada budaya mayoritas mendominasi masyarakat, tetapi juga terhadap budaya masyarakat terpinggirkan minoritas. Gereja harus bekerja sedemikian rupa agar Injil dapat menggarami dan menerangi keduanya, agar kelompok marginal tidak merasa risih, minder bahkan malu mengenai budayanya. Serentak dengan itu adalah agar dapat bekerja bersama-sama untuk membebaskan budaya masing-masing dari kekuatan-kekuatan demonis yang menciderai dan menindas manusia. Dengan kata lain, kontekstualisasi itu terdiri dari teks Injil dan konteks budaya di mana, Injil teks harus mempengaruhi, menggarami budaya konteks bukan sebaliknya. Kesimpulan Kebudayaan Nusantara merupakan warisan leluhur yang adiluhung. Hadirnya agama, termasuk kekristenan menjadikan budaya berada pada hal yang dianggap mistis dan berbau paganisme sehingga harus dihindari. Ambiguitas dan disposisi gereja dalam memandang budaya Nusantara menempatkannya berada pada pusaran krisis. Kelestariannya terancam punah. Diperlukan posisi sikap yang jelas dari peran etika teologi dalam pandangan dan tanggung jawabnya terhadap kelestarian budaya Nusantara ke depan. Berdasarkan hal tersebut, maka kesimpulan kajian dan hasil pembahasan tersebut di atas adalah sebagai berikut pertama peran etika teologi dalam memandang budaya Nusantara sebagai mandat kebudayaan dari awal penciptaan. Di mana kebudayaan ada sejak penciptaan manusia, tetapi kebudayaan dan penciptaan tidaklah sama karena penciptaan adalah karya Allah yang bersumber pada Pribadi-Nya, sedangkan kebudayaan adalah hasil karya berpikir manusia yang merupakan hasil ciptaan Allah. Hal ini membuktikan bahwa Alkitab itu melampaui setiap kebudayaan manusia, dalam hal ini termasuk kebudayaan Nusantara. Sehingga Alkitab harus menjadi parameter utama dalam memandang kebudayaan manusia. Alkitab menjadi dasar etika teologi dalam memandang budaya Nusantara. Manusia diciptakan Allah itu serupa dan segambar dengan-Nya, oleh karena seharusnya dalam berkebudayaan adalah bertujuan untuk menjalankan rencana Allah yang sudah ditetapkan-Nya dari semula. Tujuan penciptaan adalah untuk menggambarkan kemuliaan Allah, sehingga yang harus menjadi tujuan kebudayaan manusia adalah untuk menyatakan kemuliaan Allah juga, bukan malah sebagai wujud pelestarian dosa yang melawan wahyu kebenaran Allah. Sehingga sebagai standart moral yang digunakan dalam memandang suatu kebudayaan manusia adalah apakah bertentangan dengan kehendak Allah dalam Alkitab atau tidak. Kedua, peran etika teologi Ibid. 73 dalam tanggung jawab kelestarian budaya Nusantara. Kebudayaan Nusantara diperhadapkan dengan modernitas dan akidah agama. Budaya dianggap usang kuno, jadul, ketinggalan zaman oleh kaum modernisme, sedangkan oleh kaum puritan budaya dianggap bertentangan dengan akidah agama sehingga harus ditinggalkan. Dua pandangan kelompok ini mengancam kelestarian budaya Nusantara ke depan. Sehingga diperlukan pandangan etika teologis sebagai tanggung jawab warga gereja, sebagai warga bangsa dalam melestarikan budaya Nusantara. Pandangan kristen terhadap penerimaan akan kebudayaan sangat beragam. Ada yang menolak, menerima sebagian, menerima seutuhnya. Di mana semua disertai dengan alasan yang melatar belakangi dari setiap pandangan tersebut. Pelestarian budaya Nusantara merupakan tanggung jawab warga bangsa, termasuk dalam hal ini warga gereja tetapi dalam pelaksanaannya juga harus memperhatikan akidah iman kristiani. Di sinilah peran etika teologis untuk dapat melihat dan menempatkan diri pada batasan-batasan yang jelas antara Injil dan Kebudayaan. Dalam tanggung jawabnya melestarikan budaya Nusantara, maka etika teologi berperan terhadap adanya inkulturasi dan kontekstualisasi Injil dan Budaya. Injil harus dapat menerangi kebudayaan, sehingga dalam kontekstualisasi, konteks budaya harus diterangi oleh teks Alkitab. Injil teks lebih tinggi dari budaya konteks, sehingga budaya Nusantara yang netral dan tidak bertentangan dengan Injil harus dapat dilestarikan. Ucapan Terima Kasih Penulis dan tim penulis menyampaikan terima kasih kepada Ketua STT REAL Batam yang memberikan dukungan atas penelitian dan menghasilkan suatu tulisan ini. Rujukan Chambers, John, and Haskarlianus Pasang. Cara Pandang Kristen. Bogor Langham, 2015. De, Kuiper Arie. Missiologia. Jakarta BPK Gunung Mulia, 2009. Frame, John M. âKekristenan Dan Kebudayaan Bagian 1.â Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan 6, no. 1 2005 1â27. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta Rineka Cipta, 2009. Lehman, Paul L. Ethics in a Christian Context. New York Harper & Row Publisher, 1963. Lukito, The Undending Dialogue of Gospel and Cultureâ Dalam Struging in Hope A Tribute the Rev. Dr. Eka Darmaputra. Edited by Ferdinand Suleeman, Adji Ageng Sutama, and A Rajendra. Jakarta BPK Gunung Mulia, 2011. Netland, Harold. Encountering Religious Pluralism The Challenge to Christian Faith Mission. Downers Grove IVP Acadamic, 2001. Niebuhr, H. R. Kristus Dan Kebudayaan. Jakarta Petra Jaya, 1995. Sagala, Mangapul. Apakah Benar Adat Batak Bertentangan Dengan Injil? Makalah Seminar Sehari âAdat Batak Dan Injil.â Jakarta Yayasan Gema Kyriasa, 2004. Sarinah. Ilmu Budaya Dasar. Sleman CV Budi Utama, 2019. Sihombing, Lotnatigor. âTanggung Jawab Gereja Dalam Mewujudnyatakan Karya Kristus Di Sektor Kebudayaan.â Amanat Agung 7, no. 2 2011 257â288. 74 Tanuwidjaja, Sundoro, and Samuel Udau. âIman Kristen Dan Kebudayaan.â Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. 1 2020 1â14. Tari, Ezra. âBagaimana Kita Bisa Melawan Sinkritisme Di Dalam Misi Kita?â 2012 1â15. Timo, Ebenhaizer Nuban. âGereja Dan Budaya-Budaya.â Penuntun Jurnal Teologi dan Gereja 14, no. 25 2013 57â70. Tomatala, Yakub. Antropologi; Dasar Pendekatan Pelayanan Lintas Budaya. Jakarta YT Leadership Foundation, 2007. Tumanan, Yohanis Luni. âIbadah Kontemporer Sebuah Analisis Reflektif Terhadap Lahirnya Budaya Populer Dalam Gereja Masa Kini.â Jurnal Jaffray 13, no. 1 2015 35. Verkuyl, Johannes. Etika Kristen Dan Kebudayaan. 2nd ed. Jakarta Badan Penerbit Kristen, 1996. Zaluchu, Sonny Eli. âStrategi Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama.â Evangelikal 4, no. 1 2020 28â38. âHttps// BBC. Tolop MarbunRitual manulangi salah satu saran memberikan penghormatan tertinggi kepada orang tua sesuai dengan ajaran leluhur orang Batak. Karena ritual manulangi merupakan ajaran leluhur, ada orang yang merasa bahawa ritual manulangi sudah tidak relavan karena menghormati orang tua bisa berbagai cara. Ada juga memiliki sikap sekatarianisme yang menganggap bahwa semua adat istiadat Batak Toba merupakan dosa dan bertentangan dengan Alkitab. Tujuan dari penelitian ini memberikan nilai-nilai teologis dalam ritual manulangi sehingga orang Batak Toba masa kini bisa tetap mempertahan ritual manulangi dengan nilai-nilai kekristenan. Metode yang digunakan penelitian kualitatif dengan model studi literatur. Data yang diperoleh melalui literatur yang berkaitan dengan judul, kemudian dianalisan untuk menghasilkan kerangka berpikir. Selanjutnya penulis melakukan kajian teologis dari hasil temuan data. Rituali manulangi memenuhi hukum yang utama dan terutama yaitu, kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia. Kasih kepada Allah melalui ritual menulangi sebagai saran memuliakan Allah dan menghormati orang tua sebagi ketaatan kepada Allah. Kasih kepada sesama manusia melalui ritual manulangi sebagai saran menghormati orang tua, saling memberkati, restorasi hubungan keluarga dan sarana tolong TanuwidjajaSamuel UdauCulture is created by God, as it is the essence of Christian faith, in order to reflects His values and glory. Culture can not be separated from the existence of God relate to its origin, process and ultimate objective. However, culture is never be able separated from humanity's oldest struggle, sin. The existence of sin also takes part in various area in the development of human culture, there for brings those who insult and assume that God is not the highest and must be glorified, even rejecting the existence of God. The teachings of the Christian faith explain the concept of redemption which finally enables the culture to recognize the existence of God as the highest being, and to reveal His glory. This paper expresses various Christian struggles in addressing the existence and development of human culture from the perspective of the Christian faith, and returning it to God's original position and purpose for humans. Kebudayaan berasal dari Allah dijalankan sesuai tata nilai dari Allah dan dan harus kembali kepada Allah, itulah esensi iman Kristen. Budaya tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Allah, baik asal mulanya, prosesnya hingga kepada tujuan akhirnya. Walau demikian, kebudayaan tidak terlepas dari pergumulan tertua manusia, yaitu dosa. Keberadaan dosa juga mengambil andil dalam perkembangan kebudayaan manusia ke berbagai bidang, sehingga ada yang melecehkan dan mengganggap bahwa Allah bukanlah yang tertinggi dan harus dimuliakan, bahkan menolak keberadaan Allah. Ajaran iman Kristen memaparkan konsep penebusa yang akhirnya memampukan kebudayaan itu mengakui keberadaan Allah sebagai Pribadi yang tertinggi, dan menyatakan kemuliaan-Nya. Tulisan ini mengungkapkan berbagai pergumulan orang Kristen dalam menyikapi keberadaan maupun perkembangan kebudayaan manusia dari sudut pandang iman Kristen, dan mengembalikannya pada posisi maupun tujuan awal Allah bagi JohnTopik yang akan kita bahas adalah âKekristenan dan Kebudayaan.â Topik ini akan dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama akan membahas âApakah Kebudayaan itu?,â kemudian âKristus dan Kebudayaan,â yang membahas tentang relasi Kristus dengan semua kebudayaan di dunia. Pada bagian ketiga, âKristus dan Kebudayaan kita,â saya akan lebih mengkhususkan pada apa yang kita pelajari di kebudayaan Barat di mana manusia hidup. Bagian keempat adalah âOrang Kristen di dalam Kebudayaan Kita,â yaitu pembahasan yang berkaitan dengan manusia bagaimana seharusnya menanggapi kebudayaan di sekeliling kita? Bagaimana orang Kristen seharusnya berinteraksi dengan kebudayaan masa kini apakah kita harus lari darinya, memeranginya, membuat alternatif, atau apa? Bagian terakhir, âKebudayaan di dalam Gereja,â membahas apa yang dapat diperbuat oleh gereja dengan kebudayaan di dalam pelayanannya dalam penginjilan, penggembalaan pada orang percaya, dan Religious Pluralism The Challenge to Christian Faith Mission. Downers Grove IVP AcadamicHarold NetlandApakah Benar Adat Batak Bertentangan Dengan Injil? Makalah Seminar SehariMangapul SagalaTanggung Jawab Gereja Dalam Mewujudnyatakan Karya Kristus Di Sektor KebudayaanLotnatigor SihombingEthics in a Christian ContextPaul L LehmanEtika Kristen Dan KebudayaanJohannes VerkuylJakarta BPK Gunung MuliaKuiper Arie DeMissiologia
Artinya keberadaan budaya bangsa Indonesia diakui dan dinilai positif oleh masyarakat dunia sehingga mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Berdasarkan penjelasan tersebut, jawaban yang tepat adalah C. Topik: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial. Subtopik: Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial II. Level Kognitif
H. Richard Niebuhr dari Yale University di Amerika serikat telah membuat bagan tentang sikap Gereja terhadap kebudayaan dalam bukunya Christ and Culture atau Kristus dan kebudayaan. Ia telah menjelajahi sikap-sikap Gereja terhadap kebudayaan sepanjang zaman dalam 5 sikap, yaitu 1. Gereja anti kebudayan 2. Gereja dari kebudayaan 3. Gereja diatas kebudayaan 4. Gereja dan kebudayaan dalam hubungan paradox 5. Gereja pengubah kebudayaanIni adalah gambaran âgambaran umum, sedang dapat kita benarkan pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada gereja yang secara murni mengambil salah satu sikap tersebut. Namun ada baiknya kita membicarakan posisi-posisi itu satu persatu 1. Gereja anti kebudayanGereja memandang dunia di bawah kekuasaan si jahat sebagai kerajaan kegelapan. Warga Gereja disebut oleh Injil adalah anak-anak terang, karena itun tidak hidup dalam kegelapan. Dunia kegelapan ini dikuasai oleh nafsu kedagangan, nafsu mata, kesombongan. Semua itu akan berlalu sebab mereka akan dikalahkan oleh iman kepada Kristus Niebuhr, 56.Sikap menentang kebudayaan ini telah dilancarkan oleh Tertullianus tokoh Gereja abad ke 2. Ia mengatakan bahwa konflik-konflik orang percaya bukan dengan alam tetapi dengan kebudayaan. Dosa asal itu menurut Tertullianus disebarkan oleh kebudayaan melalui pendidikan anak. Oleh karena itu kata tertullianus tugas Gereja adalah menerangi semua orang yang sudah berada di bawah ilusi kebudayan, supaya mereka dibawa kepada pengetahuan akan kebenaran. Yang paling buruk dari kebudayaan adalah agama sosial, kafir atau politheisme, hawa nafsu dan kemaksiatan Niebuhr, 60. Tetapi pada pihak lain, tertullianus menganjurkan agar Gereja memupuk kebersamaan, tidak meninggalkan pertemuan umum, tempat pemandian, kede, penginapan, pasar mingguan tempat perdgangan sebab Gereja dengan semua itu numpang bersama dalam dunia. Selanjutnya kata Tertullianus, kami berlayar bersama berjuang denganmu, mengolah tanah denganmu bahkan dalam bidang seni untuk umum. Pada pihak lain Tertullianus mengajak orang menjauhi keterlibatan dalam soal-soal kenegaraan, antara lain menolak dinas militer sebab melanggar perintah Injil yang melarang menggunakan pedang dan tidak ikut dalam sumpah setia kepada kaisar dan keturut sertaan dalam upacara kafir. Ia menolak bentuk kekristenan yang berfusi dengan Stoa dan Plato. Menurut pendapatnya, tidak ada hubungan Kristus dengan filsafat. Walau Tertullianus tidak menolak seluruh kebudayaan, tapi Niebuhr menyebutnya termasuk dalam posisi Gereja lawan Gereja dari kebudayaanKelompok yang menganut paham ini merasa tidak ada ketegangan besar antara gereja dan dunia, antara Injil dan hukum-hukum sosial, antara karya rahmat Illahi dengan karya manusia. Mereka menafsirkan kebudayaan melalui Kristus danberpendapat bahwa pekerjaan dan pribadi Kristus adalah sangan sesuai dengan kebudayaan. Dipihak lain, kelompok ini berpendapat jika Kristus ditafsirkan melalui kebudayaan, maka hal-hal yang terbaik dalam kebudayaan adalah cocok dengan ajaran dan kehidupan Kristus. Namun penyesuaian ini bukan sembarangan, sebab telah dilakukan juga penjungkiran bagian-bagian kebudayaan yang tidak sesuai dengan Injil dan bagian-bagian Injil yang tidak sesuai dengan adat istiadat sosial Niebuhr 94.Tetapi kaum Gnostik Kristen menafsirkan Kristus sepenuhnya sesuai dengan konsep kebudayaan, tidak ada pertentangan antara keduanya. Dengan demikian ada perdamaian Injil dengan kebudayaan dan karena itu kekristenan telah menjadi sistem agama dan filsafat dan Gereja hanya sebagai perhimpunan religius bukan sebagai gereja atau masyarakat baru. Tokoh-tokoh penyesuaian ini dalam sejarah Gereja adalah Clemens 200 dan Origines 185-254- Fuklaan-Berkhof, 1981 41.Pada abad pertengahan posisi Gereja dari kebudayaan dilanjutkan oleh Petrus Abelardus 1079-1142 yang mengakui karya Filsuf Socrates dan Plato sebagai guru mendidik walaupun lebih rendah tingkatnya tyetapi bersesuaian dengan ajaran Yesus Niebuhr, 100.Tokoh yang lain adalah Ritschl yang menggagasi untuk merekonsiliasi kekristenan dengan kebudayaan. Kelompok ini secara keseluruhan disebut Protestantisme kebudayaan melalui gagasan tentang kerajaan Allah yang telah disamakan dengan suatu kerajaan umat manusia yang terhimpun dalam suatu keluarga, di bawah ikatan kebajikan, perdamaian, keperluan bersama. Perhimpunan ini terbentuk melalui aksi moral secara timbal balik dari anggota-anggotanya yaitu suatu aksi melalui pertimbangan alamiah Niebuhz, 109. Dalam gagasan ini, kesetiaan orang kepada Kristus menentukan orang untuk berpartisipasi secara aktif dalam karya kebudayaan Niebuhr, 110. 3. Gereja diatas kebudayaanPandangan ini berawal dari pandangan tingkatan hirarkis dari alam natural dan spiritual rohani. Menurut Thomas Aquinas 1225-1274, kebudayaan menciptakan aturan suatu kehidupan sosial yang ditemukan oleh akan budi manusia yang dapat dikenal oleh semua yang berakal sehat sebab bersifat hukum alam. Tapi disamping hukum alam ada hukum Ilahi yang dinyatakan Allah melalui para Nabi yang melampaui hukum alam. Sebagian hukum Ilahi adalah harmonis dengan hukum alam dan sebagaian lagi melampauinya dan itulah menjadi hukum dari hidup supernatural manusia ordo supernaturalis. Hukum Ilahi terdapat dalam perintah jualah semua apa yang kamu miliki, berikan kepada orang miskin sedang hukum alam terdapat dalam perintah kamu tidak boleh mencuri, yaitu hukum yang sama dapat ditemui oleh akal manusia dan didalam wahyu. Dari contoh itu Thomas Aquinas menyimpilkan bahwa hukum alam yang ditemui yang terdapat dalam kodrat hidup manusia berada dubawah ordo dalam hidupnya sudah kehilangan ordo supernaturalis dan untuk dapat memulihkannya kembali hanyalah melalui berada dalam ordo supernatulis. Oleh karena itu kebudayaan berada di bawah hirarkis gwereja. Dengan itu pada abad pertengahan gereja menguasai seluruh kebudayaan dalam tatanan Corpus Hubungan Gereja dan kebudayaan dalam paradoksDalam pandangan ini, iman dan kebudayaan dipisahkan. Orang beriman Kristen berada dalam dua suasana yaitu berada dalam kebudayaan dan sekaligus berada dalam anugerah Allah dalam Kristus. Oleh sebab itu orang beriman dihimpit oleh dua suasana yaitu hidup dalam iman dan hidup dalam sejarah Gereja, Marcian seorang tokoh gereja abad ke 2 yang berpendirian bahwa dalam kebudayaan manusia di bawah Allah yang rendah derajadnya yang dinamainya domiurgos sedang dalam pembaharuan ciptaan, manusia hidup di bawah Allah Rahmani. Dengan itu ia telah mempelopori hidup secara dualisme. Ajaran ini ditolak gereja pada masa itu dan dikategorikan sebagai ajaran dualisme kelihatan juga secara samar dalam ajaran Marthin Luther yang mencetuskan reformasi pada tahun 1517 Menurut dia orang beriman hidup dalam dua kerajaan, yaitu kerajaan Allah yang rohani dan kerajaan duniawi. Kerajaan Allah adalah suatu kerajaan anugerah dan kemuliaan, tetapi kerajaan duniawi adalah suatu kerajaan kemurkaan dan kekerasan. Kedua kerajaan itu tidak dapat dicampur adukkan. Masing-masing lingkungan menurutaturannya. Jadi manusia hidup dalam dua tatanan yaitu tatanan kebudayaan berdasarkan hukum alam dan tatanan rohani yaitu tatanan surgawi. Ada kesan bahwa Marthin Luther tidak menghubungkan tatanan duniawi dengan yang surgawi sehingga kehidupan dalam kebudayaan dan surgawi tidak berhubungnan. Dengan itu ada kemungkinan orang tidak lagi membawa imannya dalam kehidupan dalam kebudayaan Niebuhr, 194.Pada abad ini pandangan itu dipertahankan oleh seorang Teolog bernama William Roger. Manusia menurut Roger, harus berbakti kepada Allah maupun raja, kendati ada ketegangan antara keduanya. Orang beriman seyogianya hanya berbakti kepada Allah tetapi tidak dapat tidak harus berbakti kepada kebudayaan. Kita tidak dapat tidak hidup seperti ampibi, yaitu hidup dalam rahmat Allah dan sekaligus dalam kebudayaan. Kedua lingkungan ini terpisah dan tidak saling berhubungan. Hal ini mungkin bahwa seorang dapat hidup berdasarkan imannya pada lingkungan rohani atau hidup menurut imannya pada lingkungan rahmat dan pada pihak lain ia hidup menurut aturan duniawi dalam lingkungan dunia Niebuhr207.5. Gereja pengubah kebudayaanBanyak orang Kristen sepanjang abad tidak menyetujui keempat pendirian tersebut baik dalam teori maupun dalam politik. Mereka juga tidak bersedia menyerah kepadakebudayaan karena mereka memahami kebudayaan mempunyai kelemahan-kelemahan. Mereka juga menolak takluk kepada kebudayaan yang dipaksakan gereja sebab kebudayaan yang dipaksakan gereja selalu berbentuk sintesa antara kerajaan Allah dan kerajaan dunia dan ada kecenderungan memandang kebudayaan yang masih berdosa ini dianggap suci sebab berada di bawah gereja. Tapi adalah tidak benar, jika dikatakan bahwa kerajaan Allah telah diwujudkan dalam kebudayaan yang diciptakan gereja Verkugl, 1982 49.Sikap gereja yang tepat menurut H. R. Niebuhr adalah sikap gereja pengubah teolog bernama Augustinus 354-430 telah mempelopori sikap gereja pengubah kebudayaan. Posisi ini berangkat dari pendirian bahwa tidak ada suatu kodrat yang tidak mengandung kebaikan, karena itu kodrat setan sendiripun tidaklah jahat, sejauh itu adalah kodrat, tapi ia menjadi jahat karena dirusak Niebuhr, 239.Tetapi Allah kata Augustinus, memerintah dan mengatasi manusia dalam pribadi dan sosial mereka yang rusak. Pandangan ini berasal dari pemahaman bahwa oleh sifat kreatifitas Allah maka Allah tetap menggunakan dengan baik kehendak manusia yang jahat sekalipun, sehingga m,anusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya melalui kebudayaannya. Sikap Allah ini mendapat wujudnya dalam Yesus Kristus yang telah datang kepada manusia yang telah rusak untuk menyembuhkan dan memperbaharui apa yang telah ditulari melalui hidup dan kematiannya, ia mengatakan kebesaran kasih Allah dan tentang begitu dalamnya dosa manusia 241. Denganjalan Injilnya ia memulihkan apa yang telah rusak dan memberi arah baru terhadap kehidupan yang telah rusak 242. Atas pemikiran teologis tersebut, Agustinus meletakkan gagasan Injil pengubah kebudayaan atau Injil adalah Conversionis terhadap kebudayaan. Pemikiran Augustinis ini dilanjutkan oleh Johanes Calvin pada awal abad ke 16. Titik tolak pikirannya berawal pada pandangannya bahwa hukum-hukum kerajaan Allah telah ditulis dalam kodrat manusia dan dapat terbaca dalam kebudayaannya. Dengan itu hidup dan kebudayaan manusia dapat ditransformasikan sebab kodrat dan kebudayaan manusia dapat dicerahkan, sebab mengandung kemungkinan itu pada dirinya sebagai pemberian Ilahi. Oleh sebab itu Injil harus diaktualisasikan dalam kebudayaan supaya kebudayaan lebih dapat mensejahterakan manusia 245-246. Dapatlah kita simpulkan bahwa sikap gereja terhadap kebudayaan adalah 1. Gereja menentang kebudayaan khususnya terhadap unsur-unsur yang secara total bertentangan dengan Injil, umpamanya terhadap kultus agama, suku dan tata kehidupan yang tidak membangun seperti poligami, perjudian, Menerima unsur-unsur kebudayaan yang bersesuaian dengan Injil dan bermanfaat bagi Menerima unsur-unsur kebudayaan tertentu dan mentransformasikannya dengan Injil umpamanya tata perkawinan, seni tari dan lain-lain sehingga dapat menjadi sarana Injil untuk membangun iman dan kehidupan.
QS0TsX.